Bupati Sri Juniarsih Dorong Komoditas Kakao Berau Naik Kelas, 200 Ribu Bibit Disiapkan untuk Perluasan 200 Hektare

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Bupati Berau Sri Juniarsih Mas ingin komoditas kakao naik kelas, tidak lagi hanya menjadi tanaman perkebunan biasa oleh masyarakat, tetapi berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah yang mampu memberikan nilai tambah dan membuka peluang pasar lebih luas.

 

Langkah itu mulai diperkuat Pemerintah Kabupaten Berau melalui penyaluran 200 ribu bibit kakao kepada delapan kelompok tani yang tersebar di enam kampung sentra budidaya kakao. Bibit tersebut dipersiapkan untuk ditanam di lahan seluas 200 hektare.

 

Keseriusan Pemkab Berau terlihat saat Sri Juniarsih turun langsung meninjau persemaian bibit kakao di UPT Pertanian, Kecamatan Sambaliung, Sabtu (3/10/2026) tadi.

 

Dari kunjungan itu Bupati ingin memastikan bibit yang nantinya diterima petani berada dalam kondisi baik dan siap dikembangkan di lahan perkebunan.

 

“Kami tegaskan bahwa ini upaya kami yang langsung mengusulkan kepada Kementerian Pertanian dan alhamdulillah bantuan untuk 200 hektare ini telah siap disalurkan,” ujar Sri Juniarsih.

 

Bantuan tersebut tambahnya, merupakan tindak lanjut dari usulan Sri Juniarsih kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) beberapa waktu lalu.

 

“Bagi kami  dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat pengembangan kakao di Bumi Batiwakkal. Terlebih, komoditas kakao Berau telah memiliki potensi pasar hingga ke luar negeri,” katanya.

 

Pengembangan kakao di Berau bukan tanpa modal. Sejumlah petani telah menghasilkan biji kakao yang melalui proses fermentasi dan berhasil dipasarkan ke sejumlah negara.

 

Salah satunya berada di Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur. Dalam kunjungannya, Sri Juniarsih juga menyempatkan diri melihat langsung perkebunan kakao di wilayah tersebut.

 

Potensi itu yang ingin terus diperbesar. Pemerintah daerah berharap semakin banyak petani tertarik mengembangkan kakao dengan tata kelola budidaya yang baik sehingga produksi dan kualitasnya dapat meningkat.

 

“Berau dengan kultur tanahnya sangat cocok untuk budidaya kakao. Tentu kita ingin produksi cokelat dari Berau semakin meningkat memenuhi kebutuhan nasional maupun internasional,” jelasnya.

 

Menurut Sri Juniarsih, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas. Karena itu, bantuan bibit yang diberikan kepada kelompok tani diharapkan tidak hanya menambah luas perkebunan, tetapi juga melahirkan tanaman produktif yang mampu menghasilkan biji kakao berkualitas.

 

Dengan demikian, peluang kakao Berau untuk masuk dan bertahan di pasar yang lebih luas dapat semakin terbuka. Sri Juniarsih juga mengingatkan agar bantuan yang diberikan pemerintah benar-benar dimanfaatkan oleh para petani.

 

Bibit yang ditanam, kata dia, harus dirawat dan dibudidayakan secara serius. Sebab, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak bibit yang disalurkan, tetapi juga dari hasil yang diperoleh ketika tanaman mulai menghasilkan.

 

“Kami berharap masyarakat petani benar-benar memanfaatkan bantuan yang diberikan. Melakukan budidaya dengan baik sehingga hasil panen yang diperoleh juga akan memberikan hasil yang terbaik,” katanya.

 

Menurutnya, jika produktivitas perkebunan meningkat, manfaatnya diharapkan turut dirasakan secara langsung oleh masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin petani berjalan sendiri setelah menerima bantuan bibit.

 

“Kami hanya memastikan pendampingan dan pembinaan akan terus dilakukan melalui organisasi perangkat daerah terkait serta tenaga penyuluh pertanian,” terang Sri.

 

Pendampingan tersebut diperlukan agar petani mendapatkan pengetahuan dan dukungan dalam mengelola tanaman kakao, mulai dari budidaya hingga menghasilkan biji berkualitas.

 

“Kita akan terus memberikan pendampingan, termasuk mengusulkan bantuan pupuk dan tambahan bibit untuk perluasan areal tanam,” tegas Sri Juniarsih.

 

Dan rencana penambahan bibit dan dukungan pupuk tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah daerah membuka peluang untuk memperluas pengembangan kakao di Berau. Targetnya bukan hanya memperbanyak tanaman, tetapi membangun ekosistem kakao yang semakin kuat dari kebun petani, proses produksi dan fermentasi, hingga pemasaran.

 

Penyaluran 200 ribu bibit kakao menjadi salah satu langkah awal dalam memperkuat komoditas tersebut di Berau. Enam kampung sentra dan delapan kelompok tani yang menjadi penerima bantuan kini memiliki tambahan dukungan untuk mengembangkan perkebunan kakao.

 

“Di sisi lain, keberhasilan produk kakao dari Kampung Birang yang telah menembus pasar sejumlah negara menjadi modal penting untuk terus mengembangkan komoditas tersebut,” ujarnya lagi.

 

Sri Juniarsih pun berharap kakao Berau semakin dikenal bukan hanya karena produksinya, tetapi juga karena kualitasnya. Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan keseriusan petani, kakao diharapkan mampu menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian masyarakat Berau. (sep/FN/Advertorial)